Home / News / Marvel’s Wolverine Kurang Bagus Karena Terlalu Dibandingkan dengan Spider-Man?

Marvel’s Wolverine Kurang Bagus Karena Terlalu Dibandingkan dengan Spider-Man?

Wolverine Marvel review negatif

Ketika Insomniac Games mengumumkan Marvel’s Wolverine, ekspektasi gamer langsung melambung tinggi. Bagaimana tidak? Studio ini baru saja membangun reputasi luar biasa lewat Marvel’s Spider-Man dan Marvel’s Spider-Man 2. Kini mereka membawa formula tersebut kepada salah satu karakter Marvel paling ikonik.

Namun menjelang bahkan setelah peluncurannya, Marvel’s Wolverine justru mendapatkan cukup banyak kritik. Pertanyaannya, apakah game ini memang buruk, atau gamer terlalu berharap Wolverine menjadi “Spider-Man dengan cakar”? Atau memang jelek aja?

Masalah Pertama: Bayang-Bayang Spider-Man Terlalu Besar

Salah satu sumber kekecewaan terbesar adalah ekspektasi. Spider-Man dari Insomniac menawarkan dunia terbuka yang luas, traversal yang sangat menyenangkan, combat dinamis, serta berbagai aktivitas sampingan.

Wolverine mengambil pendekatan yang berbeda. Game ini lebih linear dan berfokus pada perjalanan cerita, pertarungan serta set piece sinematik. Bahkan GameSpot mencatat adanya ironi: ketika Spider-Man 2 dikritik karena terlalu open-world, Wolverine kini justru dikritik karena terlalu linear. Emang dasar netizen ya kan?

Masalahnya bukan bahwa desain linear itu buruk. Persoalannya, pemain datang dengan ekspektasi terhadap standar Insomniac yang sudah dibentuk oleh Spider-Man.

Combat Memang Seru, Tetapi Terasa Familiar

Insomniac sebenarnya berhasil menangkap karakteristik Wolverine. Cakar adamantium, healing factor, rage meter dan serangan brutal membuat Logan terasa jauh lebih ganas dibanding Peter Parker.

Trailer gameplay juga memperlihatkan pertarungan yang cepat dan penuh kekerasan.

Sayangnya, banyak pemain merasa formula tersebut tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru.

Keluhan mengenai combat yang repetitif juga muncul dalam sejumlah ulasan. The Guardian menilai pertarungannya kurang memiliki variasi dan kreativitas dibandingkan game seperti Spider-Man atau Devil May Cry.

VGC bahkan memberikan nilai 3/5 dan menyebut gameplay-nya kurang inspiratif meskipun secara visual sangat mengesankan.

Dengan kata lain, Wolverine memang terasa kuat, tetapi tidak selalu terasa revolusioner.

Bukan Karena Dibuat Terburu-Buru

Menariknya, teori bahwa game ini dibuat terlalu terburu-buru juga kurang tepat.

Marvel’s Wolverine justru menjalani proses pengembangan yang panjang. Namun waktu pengembangan yang panjang tidak otomatis berarti semua elemennya akan terasa inovatif.

Inilah paradoksnya. Insomniac memiliki waktu untuk memoles game, tetapi hasil akhirnya justru memperlihatkan desain yang sangat aman. Beberapa ulasan menyebut game ini lebih dekat dengan pengalaman linear seperti Uncharted dibandingkan Spider-Man.

Jadi problemnya bukan semata-mata kurang waktu, melainkan seberapa berani Insomniac bereksperimen dengan formula Wolverine.

Lalu, Apakah Wolverine Memang Jelek?

Tidak juga sih. Ada banyak hal yang justru mendapatkan pujian. Visualnya kuat, karakter Logan terasa meyakinkan, aksi sinematiknya spektakuler, sementara combat tetap menyenangkan ketika pertarungan sedang berlangsung.

TechRadar misalnya, menilai game ini berhasil menghadirkan pengalaman action-adventure yang penuh kekerasan dan sinematik, meskipun sistem combat serta beberapa aktivitas pendukungnya terasa kurang matang.

Masalahnya adalah kualitas tersebut belum cukup untuk membuat Wolverine terasa sebagai lompatan besar bagi Insomniac.

Washington Post bahkan menyimpulkan game ini memiliki hati dan tetap menyenangkan, tetapi kurang ambisius.

Wolverine Bukan Game Jelek, Hanya Tidak Sesuai Ekspektasi

Pada akhirnya, kritik terhadap Marvel’s Wolverine sepertinya merupakan kombinasi dari tiga hal: ekspektasi yang terlalu tinggi, desain linear yang bertolak belakang dengan formula Spider-Man, serta gameplay yang dianggap terlalu familiar.

Ironisnya, mungkin justru karena game ini dibuat oleh Insomniac, standar yang digunakan gamer menjadi jauh lebih tinggi.

Kalau Marvel’s Wolverine datang dari studio yang belum memiliki reputasi seperti Insomniac, responsnya mungkin akan berbeda. Tetapi setelah Spider-Man dan Spider-Man 2, pemain tentu mengharapkan sesuatu yang sama revolusionernya.

Namun apakah game ini berhasil mencapai standar yang sebelumnya dibuat Insomniac sendiri? Dari respons kritikus dan komunitas sejauh ini, jawabannya tampaknya masih belum. Menurut kami pribadi, sejak preview gameplay saja kami sudah skeptis. Mengingat ada beberapa scene stealth yang kok kureng ya? Kurang bad *ss gitu loh!

Tagged:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *