Belakangan ini komunitas gamer Indonesia lagi ramai membahas kemunculan label usia dari Indonesia Game Rating System (IGRS) di Steam. Masalahnya bukan sekadar karena rating baru muncul, tapi karena banyak labelnya terasa “nggak masuk akal”.
Ada game penuh kekerasan yang muncul sebagai 3+, tapi ada juga game santai atau naratif yang justru jadi 18+. Jadi sebenarnya yang salah siapa? Sistemnya? Platformnya? Atau memang ada proses yang belum selesai?
Gamer mulai bingung: ratingnya kok kebalik?
Sejak awal April 2026 lalu, gamer Indonesia mulai menemukan hal aneh di halaman Steam, semisal game dengan unsur kekerasan berat muncul sebagai 3+, namun sebaliknya game ramah remaja malah jadi 18+, dengan temuan bahwa penilaian untuk beberapa game lokal dinilai lebih ketat dibanding penilaian untuk game global.
Fenomena ini langsung ramai di media sosial karena label usia biasanya dipakai sebagai panduan penting, terutama buat orang tua dan pemain muda.
Pertanyaannya: kok bisa kejadian seperti ini?
Pertama, rating yang muncul ternyata belum sepenuhnya resmi
Ini fakta paling penting yang belum banyak disadari gamer. Menurut pernyataan Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Komdigi), rating IGRS yang muncul di Steam saat ini belum semuanya hasil klasifikasi resmi pemerintah.
Sebagian rating masih berasal dari sistem self-declare, yaitu: developer atau platform mengisi sendiri informasi konten game. Artinya, label yang kamu lihat belum tentu final.
Komdigi juga menegaskan proses verifikasi resmi masih berjalan dan integrasi sistemnya belum selesai sepenuhnya.
Kedua, Steam masih dalam tahap integrasi teknis dengan IGRS
Masalah lain datang dari sisi teknis. Steam baru mulai menyesuaikan sistem internalnya dengan logika klasifikasi IGRS. Proses seperti ini memang tidak bisa langsung rapi dalam satu waktu karena harus menyamakan: database game global, sistem survey konten developer, dam aturan klasifikasi lokal Indonesia.
Akibatnya, sebagian label usia yang muncul sekarang masih bersifat sementara. Makanya muncul kasus “aneh” seperti game berat jadi 3+, game ringan jadi 18+. Alias kebolak!
Ketiga, game lama tidak selalu punya data klasifikasi yang lengkap
Ini penyebab yang sering luput dari perhatian. Banyak game di Steam sudah rilis sejak lama, bahkan sebelum integrasi IGRS dilakukan. Saat sistem rating Indonesia mulai diterapkan ke platform global seperti Steam, tidak semua game punya data klasifikasi yang kompatibel.
Hasilnya? Steam harus “menebak” berdasarkan data yang tersedia. Dan di sinilah mismatch sering terjadi.
Standar klasifikasi tiap negara berbeda.
IGRS tidak hanya melihat kekerasan fisik. Sistem ini juga mempertimbangkan: tema psikologis, interaksi online, unsur horor, referensi rokok atau alkohol, dan humor dewasa
Semua faktor itu bisa menaikkan rating usia. Jadi meskipun secara gameplay terlihat santai, secara tema bisa saja masuk kategori dewasa.
Jadi gamer perlu khawatir atau tidak?
Untuk saat ini, yang paling penting dipahami: rating IGRS di Steam masih dalam proses sinkronisasi. Artinya label yang kamu lihat belum final dan tentunya tidak permanen. hal ini sudah dikonfirmasi oleh Komdigi.
Tapi diskusi komunitas gamer tetap penting. Karena semakin cepat masalah ini disorot, semakin besar peluang sistem rating ke depannya jadi lebih transparan, konsisten, dan benar-benar membantu pemain, bukan malah bikin bingung.
Dan pada akhirnya, tujuan sistem rating game itu sederhana, bukan membatasi kamu main game. Tapi memastikan informasi yang kamu lihat memang akurat.
Bisakah Gamer Ikut Terlibat dalam Penentuan Rating?
Kalau melihat kasus rating yang terasa “nggak nyambung” di Steam sekarang, sebenarnya ada satu pertanyaan yang mulai sering muncul di komunitas, apakah sistem klasifikasi seperti IGRS sudah cukup melibatkan perspektif gamer aktif?
Soalnya, gamer, terutama streamer, reviewer, dan komunitas yang rutin memainkan berbagai genre, biasanya punya pemahaman yang lebih kontekstual soal intensitas gameplay, tema cerita, interaksi online, hingga budaya komunitas di dalam game.
Hal-hal seperti ini sering kali sulit dinilai hanya dari dokumen klasifikasi atau survei konten saja. Di banyak negara, sistem rating game memang tetap dikelola lembaga resmi. Tapi mereka biasanya juga membuka ruang diskusi dengan pelaku industri, komunitas kreator, reviewer, bahkan akademisi game studies.
Pendekatan seperti ini membantu menjaga rating tetap relevan dengan realitas pemain.
Kalau ke depan IGRS ingin jadi referensi utama gamer Indonesia, melibatkan suara komunitas, termasuk gamer aktif dan streamer, bisa jadi langkah penting. Bukan untuk mengganti peran regulator, tapi untuk memastikan label usia benar-benar terasa masuk akal bagi orang yang memainkan gamenya langsung setiap hari.
Karena pada akhirnya, sistem rating yang baik bukan cuma soal aturan. Tapi soal kepercayaan.






